Tersangka kasus pembobolan dana pensiun (Dapen) Pertamina, Betty Halim. (Foto : Realita.co)

Femme.id, Jakarta -Berbagai perkara korupsi yang berskala besar telah berhasil diungkap oleh Kejaksaan Agung. Tak ayal, dari perkara yang telah merugikan keuangan negara tersebut banyak para pejabat dan pengusaha yang masuk bui untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.

Dalam perkara korupsi ini sendiri, tak jarang perbuatan tindak pidana tersebut terjadi karena adanya persekongkolan Untuk memperkaya diri sendiri ataupun kelompok/golongan. Selain itu, bisa juga adanya kerugian negara akibat kebijakan yang diambil.

Kini, Kejagung sedang melakukan pengungkapan beberapa perkara korupsi yang terjadi dibeberapa instansi/kementerian, pemerintah daerah dan perusahaan BUMN. Sebut saja perkara pengadaaan alat mesin pertanian di Kementerian Pertanian, korupsi dana hibah di KONI Pusat, dana bencana banjir di Manado, Jiwasraya, Danareksa, Bank Tabungan Negara, Bank Mandiri dan perkara lainnya.

Terhadap perkara-perkara tersebut, ada yang telah memasuki persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, penetapan para tersangka dan pemeriksaan saksi untuk menetapkan orang yang bertanggungjawab atas terjadi korupsi tersebut.

Khusus untuk perkara korupsi di Danareksa Sekuritas, penyidik Kejagung terus melakukan penyidikan dan pengembangan. Kendati dalam perkara pemberian fasilitas pembiayaan kepada PT. Evio Sekuritas dan PT. Aditya Tirta Renata ini telah ditetapkan enam orang tersangkanya. Dan empat diantaranya telah dilakukan penahanan, Rabu (3/6/2020).

Penahanan keempat orang tersangka tersebut berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor : Print-14, 15, 16 dan 17/F.2/Fd.2/06/2020 tanggal 03 Juni 2020. Dan mereka yang ditahan tersebut adalah Rennier A.R. Latief, Komisaris PT. Aditya Tirta Renata sekaligus pemilik modal pada PT. Evio Sekuritas (menjadi Tersangka dalam dua perkara tersebut), Marciano Hersondrie Herman, mantan Direktur Utama PT. Danareksa Sekuritas (Tersangka dalam dua perkara tersebut) serta Zakie Mubarak Ups, Direktur PT. Aditya Tirta Renata dan Erizal Bin Sanidjar Ludin, mantan Direktur Operasional Finance PT. Danareksa Sekuritas.

Terbongkarnya dugaan korupsi di Danareksa ini dengan adanya gagal bayar dari repo PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) pada akhir 2015 yang merupakan jaminan PT. Evio Sekuritas dan PT. Aditya Tirta Renata untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan.

Untuk saham SIAP ini sendiri, dalam transaksinya tercium ada yang mencurigakan oleh Bursa Efek Indonesia. Yang awalnya sebagai perusahaan bergerak di industri percetakan kertas dan plastik, SIAP tiba-tiba berpindah ke industri pertambangan batubara. Hal ini pun berpengaruh pada harga saham SIAP. Terjadi pelonjakan harga, yang semula di bawah Rp 200 per lembar menjadi di atas Rp 460 per lembar.

Tentu kenaikan harga saham tersebut ada peran yang dilakukan oleh manger investasi. Ini dibuktikan dengan adanya interogasi BEI kepada delapan broker yang diantaranya PT Reliance Securites, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Millenium Danatama Sekuritas. Dan terhadap tiga perusahaan ini pun sempat dilakukan pemberhentian sementara operasionalnya.

Pemberhentian ini sendiri dianggap sebagai hal yang lumrah. Apalagi melihat track record yang pernah dilakukannya.

Lihat saja apa yang pernah dilakukan oleh PT Millenium Danatama Sekuritas. Sebagai anak perusahaan dari Millenuim Group, perusahaan yang dipimpin oleh Betty Halim terbilang memiliki track record buruk.

Banyak perkara yang terjadi melibatkan PT Millenium Danatama Sekuritas ini. Lihat saja, bagaimana kasus pembobolan dana pensiun Pertamina yang merugikan keuangan negara Rp1,4 triliun dilakukan oleh Betty Halim ini.

Dengan menggunakan perusahaannya, Betty Halim bisa meyakinkan Helmi Kemal Lubis, Presiden Direktur Dana Pensiun Pertamina untuk melakukan pembelian saham SUGI dan ELSA yang tak ‘liquid’. Saham SUGI merupakan milik PT SUGIH, perusahaan milik Edward Soerjadjaya. Dan total saham yang dibeli sebanyak 2.004.843.140 lembar saham tanpa melakukan kajian dan tidak mengikuti prosedur pembelian saham.

Akibat pembelian tersebut, ketiganya pun ditetapkan tersangka oleh kejaksaan. Untuk Helmi dan Edward, pengadilan Tipikor Jakarta telah menjatuhkan vonis, sementara Betty Halim hingga kini belum menjalani persidangan. Padahal, berkas perkaranya telah dilimpahkan ke pengadilan Tipikor oleh kejaksaan medio Juni 2019.

Media Keadilan.id sempat melakukan penelusuran ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta untuk mengetahui jadwal persidangannya. Dalam aplikasi persidangan perkara yang tersedia di pengadilan tersebut tidak ditemukan adanya persidangan kasus korupsi dengan terdakwa Betty Halim.

Pergulatan Betty Halim dengan perusahaannya tersebut tidak hanya sampai disitu. Sebelumnya, dirinya pernah melakukan penjualan instrumen investasi berupa Medium Term Note (MTN) dengan imbal hasil 9%-16% per tahun milik anak perusahaannya Berkat Bumi Citra ( BBC).

Produk MTN yang tidak memiliki ijin dari OJK ini, menjanjikan bahwa dananya akan diinvestasikan pada pengembangan lahan industrial estate (kawasan Millenium Industrial) di Tangerang. Namun, janji tersebut tidak terpenuhi.

Kasus ini sendiri telah dibawa ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Pada 26 Oktober 2016, pengadilan memutuskan untuk dilakukan penundaan kewajiban pembayaran utang. Demikian, seperti dikutip Keadilan.id (*kea)