Orang tua tidak menuntut apapun pekerjaan dan profesi bagi anak-anaknya. Yang terpenting adalah anak-anak melakukan pekerjaan dan profesinya secara baik dan benar. (Foto: medium.com)

Femme.id – Pekerja pada umumnya mendapat waktu istirahat sekitar 60 menit dari jam 12.00 sampai dengan 13.00 untuk keperluan salat dan makan siang. Sama halnya saya sebagai staf di perguruan tinggi mendapat kesempatan serupa dengan pegawai pada umumnya. Waktu yang sempit ini menjadikan kantin mahasiswa sebagai pilihan paling masuk akal, disamping harganya lebih murah dibanding dengan tempat kuliner lainnya.

Hanya saja pada jam sibuk seperti ini, kantin tidak bisa menyediakan tempat duduk yang diinginkan oleh pengunjung. Para pengunjung, biasanya, hanya bisa menempati bangku tersisa saja tanpa harus bisa memilih.

Tidak mengherankan bila saya sering berdesakan dengan mahasiswa. Tapi memang di situ seninya makan siang di kantin kampus yang selalu terisi penuh mahasiswa dengan segala keributannya.

Dari sekian banyak kunjungan, sering ada mahasiswa yang mengajak diskusi tentang bagaimana mencari rujukan yang otoritatif untuk skripsinya baik sumber ilmiah tercetak maupun online. Mereka juga tidak segan bertanya tentang etika penelitian dan juga tentang bagaimana mensitasi karya orang lain untuk skripsi.

Ada pertanyaan yang bisa dijawab secara singkat, namun ada juga pertanyaan yang butuh praktik langsung seperti halnya bagaimana jika mengutip dengan menggunakan aplikasi tertentu. Kendati demikian, ada juga yang bertanya tidak mengenai hal-hal berbau akademik.

Pernah ada mahasiswi dari Bekasi yang tiba-tiba mendekat duduk di sebelah mengajak sharing ringan, dan akhirnya bertanya tentang apa harapan orang tua terhadap anak-anaknya.

Ini pertanyaan sederhana, tapi tidak mudah menjawabnya. Saya langsung membayangkan wajah lugu anak-anak di rumah yang bertanya:

“Ayah, apa harapan terbesar ketika kami besar kelak?”

Saya sampaikan pada mahasiswi tadi bahwa ada dua harapan besar orang tua untuk anak-anaknya yaitu jangka pendek yang sekarang ini harus dilakukan dan kelak ketika mereka besar.

Dalam jangka pendek, orang tua pasti berharap anak-anak bertanggung jawab atas studinya baik yang masih di bangku sekolah maupun yang sudah kuliah di perguruan tinggi. Ukuran keberhasilan yang paling mudah dilihat adalah nilai rapot atau IPK yang baik, yang secara administrasi bisa memnuhi syarat untuk mendaftar sekolah lanjut maupun pekerjaan tertentu.

Namun, ada juga orang tua yang tidak terlalu menuntut agar anaknya mendapat nilai yang tinggi. Baginya, kemauan dan semangat anak dalam belajar sudah memenuhi harapan orang tua karena mereka tidak mau mengukur anak-anak berdasar pada nilai semata, tapi pada proses dan upaya untuk mendapatkan nilai.

Disamping itu, besar harapan orang tua agar anak-anak punya empati terhadap pekerjaan domestik rumah tangga seperti halnya mencuci piring sendiri dan mencuci pakaian sendiri ketika libur sekolah. Atau bahkan membantu menyapu dan mengepel lantai, serta pekerjaan lainnya.

Orang tua punya pemikiran bahwa membantu pekerjaan domestik rumah tangga tidak berarti besuk anak-anak akan punya pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, namun mengajar agar mandiri dan berempati pada pekerjaan dan profesi apapun, termasuk pekerjaan pembantu rumah tangga sekalipun.

Dalam jangka panjang, pada umumnya orang tua merupakan bagian dari masyarakat umum yang ingin anaknya jadi polisi, tentara, atau juga dokter. Profesi ini punya penampilan sangat prestisius di tengah masyarakat karena kontribusinya pada kemanusiaan. Atau bagi anak-anak, setidaknya, seragam yang dikenakan mereka terlihat sangat gagah.

Adalah tidak mungkin menjawab bahwa orang tua berharap anak akan jadi dokter ketika anak yang bersangkutan mengambil jurusan bidang ilmu sosial. Lagipula, kuliah di kedoktoren membutuhkan kombinasi yang sempurna antara otak brilian anak dan uang yang sangat besar yang harus disiapkan untuk keperluan kuliah.

Juga tidak mungkin orang tua berharap anak-anaknya menjadi tentara atau polisi sementara anak yang bersangkutan tidak memenuhi kualifikasi pada kedua profesi tersebut.

Di sini saya mengukur diri sendiri, apa yang sebenarnya saya harapkan untuk anak-anak. Dalam berbagai ajaran, agama tidak menyebut profesi atau pekerjaan yang baik buat anak-anak. Dalam berbagai redaksi doapun tidak ada yang menyebut profesi.

Salah satu harapan orang tua terhadap anak yang tersebut dalam kitab suci adalah penyejuk mata yang dalam bahasa agama disebut qurrotu a’yun.

Profesi dan pekerjaan apapun yang baik dan halal sangat terbuka untuk semua anak. Bahkan tak jarang dalam praktik sehari-haripun pilihan jurusan sekolah tidak selalu linier dengan pekerjaan.

Banyak politisi yang tidak mengambil jurusan ilmu politik ketika kuliah. Banyak pengusaha juga tidak kuliah dalam bidang ekonomi dan bisnis. Dan tidak sedikit sarjana bidang pertanian yang berprofesi sebagi bankir.

Apapun profesi dan pekerjaannya, yang terpenting adalah dilandasi dengan akhlak yang mulia. Akhlak mulia ini yang mengontrol semua pekerjaan agar selalu baik dan benar. Sudah seharusnya akhlak mulia mendasari semua profesi dan pekerjaan dengan harapan besar akan memberikan kebaikan pada yang bersangkutan, keluarga dan masyarakat umum.

Saya masih melanjutkan sharing ideas sama mahasiswi tadi,

“orang tuamu pasti menginginkanmu menjadi penyejuk mata, yaitu kiasan yang bermakna buah tutur yang baik. Anak-anak yang menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya adalah manakala keluarga, tetangga, bahkan masyarakat umum bercerita dan menyaksikan kalau kamu anak baik, dan berakhlak mulia yang dikenang dengan kesan yang baik saja”.

Di sini agama tidak menyebut suatu profesi yang paling penting karena bisa jadi ada profesi mulia namun bila tidak dilakukan berdasar akhlak mulia akan menghasilkan perbuatan yang buruk nan tercela.

Umumnya, orang tua tidak menuntut apapun pekerjaan dan profesi bagi anak-anaknya. Yang terpenting adalah anak-anak melakukan pekerjaan dan profesinya secara baik dan benar.

Oleh : Bahrul Ulumi, Pustakawan.