Di dalam imajinasi seorang anak mereka bebas menjadi apa pun yang seakan nyata bagi mereka. /pixabay.com/sasint.

Femme.id – Dunia anak berbeda dengan dunia orang dewasa. Terkadang kita lupa memahami dunia anak. Yang membuat kita memaksa kehendak kita untuk mereka. Anak adalah titipan yang kelak akan diminta pertangungjawaban.

Dunia anak adalah dunia imajinasi. Di dalam imajinasi seorang anak mereka bebas menjadi apa pun yang seakan nyata bagi mereka. Kadang mereka berhayal menjadi tokoh super hero penyelamat dunia.

Seperti superman,dll. Tokoh-tokoh dalam film tersebut membentuk pola prilaku mereka. Mulai dari topeng, baju, gaya bicara. Hal tersebut menjadi panutan bagi anak-anak. Karena bagi seorang anak menjadi tokoh-tokoh yang mereka tirukan adalah kebanggaan yang luar biasa.

Yang menjadi pertanyaan kita apakah itu salah. Ketika seorang anak mencontohkan aku ingin jadi super hero karena ingin menyelamat dunia dari kejahatan. Maka apresiasi terlebih dahulu keinginan mereka untuk menjadi super hero.

Karena hal tersebut merupakan bentuk dari respek orang dewasa terhadap mereka. Bukan sebaliknya melumpuhkan imajinasinya, dengan ucapkan kita yang mungkin meremehkan keinginan mereka.

Jika ditelisik seorang anak yang memiliki keinginan menjadi super hero hal tersebut merupakan cita-cita yang melampui batas realita.

Yang mungkin hanya ada di dunia fiksi. Yaitu menyelamatkan manusia dari kejahatan dengan kekuatan super heronya. Tapi dalam dunia nyata cita-cita tersebut dapat terwujud ketika logika dan imajinasi bersatu padu. Bahwa untuk menyelamatkan manusia, dengan menolong dan memberi bantuan itu pun sudah termasuk menyelamat manusia.

Bahkan ketika dalam kehidupan nyata dengan contoh mentaati rambu lalu lintas itu pun merupakan bagian dari menyelamatkan manusia. Karena jika melanggar peraturan lalu lintas bisa jadi kita akan membahayakan pengendara yang lain.

Jadi seorang anak yang ingin menjadi super hero tadi, sebenarnya mereka sudah memiliki tujuan dan cita-cita yang jelas dalam kehidupannya. Contoh lain seorang anak yang bercita-cita ingin jadi pilot karena ingin melihat bintang.

Dalam tafsiran kita ada dua dunia disana pertama pilot dalam realita kedua melihat bintang di dunia imajinasi. Dengan imajinasi seperti itu secara tidak langsung seorang anak menuntun dirinya sendiri kemana ia akan pergi.

Lambat laun dengan berbagi pengalaman yang mereka miliki akan menemukan jati dirinya. Saat mereka bercita-cita menjadi pilot yang akhirnya membuat mereka belajar tentang dunia pernerbangan.

Maka disaat seperti itu sangat dibutuhkan dukungan orang tua untuk menentukan apakah mereka akan melanjutkan imajinasi mereka dalam dunia nyata atau sebaliknya, mengubur hidup-hidup imajinasinya.

Karena sejatinya sebagai orang tua kita adalah perantara bagai anak-anak untuk mewujudkan cita-cita mereka. Kita tidak akan dapat mengontrol mereka setiap detik ketika dewasa nanti.

Kita hanya dapat memberikan kepada mereka sebuah contoh yang baik yang membuat mereka ingin meniru dan mencontoh layaknya super hero tadi. Oleh sebab itu tidak salah jika dalam Islam menjadikan Nabi Muhammad SAW suri tauladan terbaik di dunia ini.

Oleh: Al Firdaus, Guru SD Tahfiz Jamal Rahma dan SD Islam Cikal Cendekia Tangerang.