Tari saman merupakan tarian khas Suku Gayo yang mengandalkan kekompakan gerak anggota tim. (Foto: Bahrul Ulumi)

Opiniindonesia.com – Beberapa tahun silam, saya mendapat telepon dari si sulung yang sedang belajar di sebuah Madsrasah Aliyah boarding school bidang sains (setingkat dengan SMA) di Surakarta. Program ini merupakan upaya sekolah agar lulusanya bisa berjiwa santri pada satu sisi, dan pada saat yang sama punya kompetensi bidang sains yang sepadan dengan anak anak sekolah SMA favorit lainnya.

Salah satu upaya nyata agar siswa mampu bersaing untuk nilai ebtanas dan seleksi masuk perguruan tinggi negeri, sekolah bekerja sama dengan lembaga bimbingan tes untuk memberikan tambahan pelajaran bagi siswa. Hal ini dilakukan mengingat lembaga tes sudah berpengalaman lama mengantar para siswa bersaing untuk nilai ebtanas seleksi masuk PTN.

Atas alasan ini, si sulung bertanya lewat telepon

“Ayah, mata pelajaran apa yang seharusnya diambil untuk bimbingan tes?”

Secara normatif saya jawab

“Silakan ambil sesuai dengan minat”.

kemudian saya tanya lagi

“Apakah semua teman seangkatan mengambil kesempatan yang sama ikut bimbingan belajar?”

Dia menjawab

“Iya, semua siswa ikut dalam bimbingan tes sesuai dengan minat mereka masing-masing”.

Pada tahap ini, sebagai orang tua saya hanya berpikir apa beban anak tidak berlebihan bila harus ikut pelajaran harian yang sudah banyak karena harus belajar mata pelajaran (mapel) agama yang berasal dari Kementrian Agama dan mata pelajaran umum yang bebannya setara dengan sekolah umum lainnya seperti SMA.

Siswa madrasah aliyah (MA) harus mempelajari banyak pelajaran yang merupakan kurikulum dari Kementrian Agama dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Kelebihan pelajaran merupakan beban tersendiri bagi para siswa. Bisa jadi beban yang harus ditanggung siswa madrasah Aliyah dua kali lipat dari anak SMA seumurannya karena harus menguasai mapel agama dan mapel umum.

Dengan sambungan telepon, akhirnya saya tanyakan lagi pada si sulung

“Apakah ada kegiatan lain di luar kegaiatan bimbingan tes?”

Sulung saya langsung menjawab “Ada bidang seni, yaitu tari Saman dan organisasi yang bernama OPBS (Organisasi pelajar boarding school).
Tanpa berpikir panjang, saya langsung menyampaikan pada si sulung “Tidak usah ikut bimbingan tes. Cukup ikut pelajaran seperti biasa di kelas. Dan mulai sekarang ikut Tari Saman dan ikut aktif di OPBS”

Pertimbangan tidak ikut bimbingan tes sebenarnya berat bagi orang tua dan anak sebab partisipasi pada bimbingan tes secara potensial berpengaruh positif pada nilai semesteran. Efek bagusnya, siswa yang ikut bimbingan tes secara potensial mendapatkan nilai jauh lebih dibanding dengan mereka yang tidak aktif ikut bimbingan.

Hanya saja, bila semua siswa ambil bimbingan belajar bidang sains, pasti mereka sangat serius. Pagi-pagi selepas salat subuh sudah harus ikut kegiatan kepondokan, dilanjutkan dengan pelajaran sekolah pada umumnya sampai siang hari seperti sekolah pada umumnya. Kemudian dilanjutkan bimbingan tes. Bahkan dalam beberapa kesempatan, mereka harus ikut bimbingan tes pada malam hari.
Kegiatan sekolah dan kepondokan sepertinya menguras pikiran dan tenaga semua siswa MA BS.

Sebagai orang tua, sedikit atau banyak akan merasa iba karena siswa tidak punya kesempatan bermain, atau bahlan berolah raga. Bukankah siswa siswa seusia sekolah menengah atas memerlukan waktu untuk bermain dan berolah raga yang cukup?

Pernah dalam suatu kesempatan si sulung cerita kalau teman sekelasnya yang menempati rangking pertama terlihat sangat serius setiap harinya karena merasa harus selalu nomor satu dalam pelajaran, dan dia juga harus menjaga martabat singgasana peringkat satu tersebut agar tidak tergeser oleh rekan sekelasnya. Akibatnya, kegiatannya tidak terlepas dari membaca buku pelajaran baik di kelas, bahkan di atas dipan tempat tidur sekalipun.

Semua orang tua pasti sangat antusias menyambut anak anaknya menempati peringkat satu di kelas. Namun demikian, bila mengamati kesehariannya,terlihat bahwa dia kurang bahagia dalam menjalani masa-masa sebagai anak sekolah. Terbukti waktunya habis hanya untuk mempertahan peringkat pelajaran di kelas saja, Bila semua siswa meniru cara seperti ini, pasti nantinya akan muncul anggapan bahwa sekolah merupakan masa dimana siswa harus menjalani kegiatan studi dengan tertekan karena waktunya habis hanya untuk belajar dan belajar bidang kognisi semata.

Ada kabar baik dari si sulung yang kemudian menuruti saran saya dengan ikut serta dalam kegiatan Tari Saman dan terlibat aktif di OPBS sekolahnya.

Tari saman ini yang kemudian membawa si sulung dan tim manggung di depan publik mewakili sekolahnya. Bahkan setiap perayaan hari-hari besar Islam mereka diundang untuk perform pada acara pembuka. Tidak jarang tim Saman mendapat hadiah mukena, jilbab atau peralatan muslimah lainnya karena puas terhadap penampilan Tari Saman ini.

Dalam beberpa kesempatan. Tim Saman juga diundang untuk perform di perguruan tinggi di kota Surakarta. Pernah suatu hari kedatangan tamu dari luar negeri yang mempelajari Tari Saman berkunjung langsung ke sekolah untuk melihat cara Tim Saman berlatih di sela sela kegiatan rutin sekolah.

Tari saman merupakan tarian khas Suku Gayo yang mengandalkan kekompakan gerak anggota tim. Kesalahan gerak sedikit saja dari anggota, akan berakibat fatal. Kegagalan satu anggota tim sedikit saja akan menyebabkan kerusakan kekompakan gerak yang menjadi inti dari tarian. Filosofi gerakan taian ini adalah kerja sama tim.

Tarian ini secara implisit mengajarkan bahwa kerja sama tim adalah sangat krusial untuk bekal di kemudian hari bila sudah masuk dalam dunia kerja. Terlebih sekarang, semua aspek kerja selalu dikerjakan oleh sebuah tim. Di samping itu, tarian Saman bisa menjauhkan siswa dari kejenuhan sehingga tidak stress dalam menghadapi studi sehari-hari.

Begitu juga aktif dalam organisasi, akan membuat anak belajar banyak hal terkait soft skill yang tidak diajarkan di kelas. Organisasi akan mengajarkan memikirkan secara nyata kepentingan para siswa. Secara langsung atau tidak langsung berorganisasi akan mengajakan kepemimpinan, memperluas jaringan di kalangan pelajar, dan juga untuk aktualisasi diri. Pengalaman ini yang justru nantinya secara nyata dibutuhkan anak ketika terjun langsung di masyarakat.

Sejauh ini, saya tetap berkesimpulan bahwa anak perlu menyalurkan bakatnya dengan cara positif sesuai dengan minatnya. Anak juga perlu belajar organisasi untuk melengkapi pengalamannya dalam bekerja dengan tim.

Sebagai catatan akhir bahwa anak yang menempati rangking satu di kelas, sekarang sama-sama tercatat sebagai mahasiswa perguruan negeri favorit di Semarang bersama si sulung, hanya berbeda fakultas. Namun sayang dia melewatkan untuk bisa nari dan berorganisasi.

Oleh : Bahrul Ulumi, Pustakawan.