Pelatihan pengucapan secara inten berpengaruh positif pada kemampuan bicara anak. (Foto: jp.123rf.com)

Femme.id – Apakah pembaca pernah ketemu dengan anak yang bermasalah dengan kemampuan berbicaranya, padahal teman seusianya sudah bisa berbicara secara lancar dan fasih? Apakah juga pertama ketemu dengan anak cadel yang pengucapannya kadang tidak konsisten?

Saya pribadi belum tahu mengapa ada anak yang begitu fasih berbicara tanpa melewati halangan cadel, sementara ada anak lain yang kemampuan berbicaranya terbatas atau katakan cadel. Apakah ada faktor fisik yang menjadi penghalang, misalnya lidah si anak tidak panjang seperti yang lainnya?

Cadel bisa jadi disebabkan karena koordinasi antara lidah dan mulut tidak sempurna. Barangkali saraf yang mengatur bahasa tidak bekerja secara sempurna.

Dalam kondisi demikian, kadang orang tua tidak bisa menuntut agar anak bisa segera berbicara fasih seperti kakak-kakaknya, dan juga teman sepermainannya.

Menuntut anak yang kemampuan bicaranya terbatas untuk segera fasih, sama halnya si anak menuntut orang tua agar tidak melahirkan dirinya “cadel”. Keduaya sama-sama dalam posisi yang sama sulit.

Umumnya, yang terjadi pada kebanyakan anak, akan mengalami cadel pada awal perkembangannya, namun seiring dengan berjalannya waktu, anak tersebut akan fasih dengan sendirinya. Ada anak yang berusia 2 tahun sudah bisa berbicara dengan baik. Barangkali, usia 4 tahun cukup memadai untuk mengucapkan segala macam huruf. Kalaupun ada kata yang paling sulit diucap adalah konsonan “R”.
Biarpun demikian, ada anak yang tidak bisa mengucap konsonan “R” dan juga konsonan lainnya seperti “K”, padahal sudah berusia 4 tahun.

Tidak hanya itu, huruf “T” saja yang jatuh pada akhir kata juga tidak mampu.

Anak saya termasuk yang mengalami kesusahan dalam mengucap berbagai macam huruf dan kata biarpun sudah berusia 4 sampai 5 tahun. Kesusahannya tidak terbatas pada huruf R pada umumnya dialami oleh kebanyakan anak. Dia punya masalah pengucapan sebagian besar kata yang diucapkan sehari hari. Misalnya, ketika menyebut “kakak”, dia menyebutnya “tatak”. Untuk penyebutan “K” ternyata relatif konsisten dengan sebutan “T”.
Namun bila huruf “T” dan juga huruf lainnya yang mirip seperti halnya “D” jatuh pada akhir kata, maka dibaca “K”. Misalnya menyebut nama seseorang yang bernama Ahmad menjadi “Ahmak”.

Tidak hanya kata kata tersebut. Ketika dia menyebut “kaget” pun juga kesulitan. Bisa dipastikan ketika dia menyebut kata kaget tersebut dengan “tadek”.

Dia juga menghadapi masalah ketika menghadapi huruf yang mudah sekalipun seperti “S”. Dia menyebut huruf tersebut dengan “Eh”. Maka, ketika ada SMS yang waktu itu pernah booming di usianya yang ke 4, dia mengucapkan dengan ucapan yang aneh, yaitu “Eh eh eh”.

Kekacauan ucapannya sebenarnya tidak hanya sampai di situ. Kata beli yang sangat mashur sebagai kata harian, juga tidak bisa diucapkan secara baik dan benar. Dia menyebut “beli” dengan “bui”. Lalu, kata jajan dengan “dadan”.

Repotnya, masyarakat kita biasanya sangat senang mem-bully- anak anak yang punya masalah, baik dalam hal verbal atau fisik. Bagi anak yang mengalami kelemahan verbal akan ditirukan. Begitu juga anak yang punya kelemahan fisik juga disebut dengan sisi kelemahannya.

Dalam posisi ini, ekstrimnya, masyarakat sangat meghambat pada anak agar bisa fasih dan percaya diri karena kelemahan fisik yang disandangnya. Bisa jadi, bagi mereka, membully anak-anak yang cadel atau yang berkekurangan sangat menyenangkan, tapi bagi orang tua anak tersebut, bullying ini pasti menyakitkan.

Anak saya termasuk yang pernah mengalami bullying verbal yang menyebabkan saya sedih bukan main. Sebagai orang tua, sudah berupaya keras untuk membangun cara agar anak bisa berbicara secara fasih, dan belum berhasil, namun masyarakat dengan semena-mena menciderai.

Lalu bagaimana baiknya biar anak punya kemampuan verbal yang setidaknya sama dengan kebanyakan anak seusianya?

Menurut saya, di luar persoalan medis, ada pihak yang harus tahu tentang keadaan anak, yaitu 1) Anggota keluarga di rumah yang musti selalu mensupport dan berbicara yang fasih, jangan ikut-ikutan cadel, dan 2) Guru di sekolah.

Peran Keluarga

Pihak yang paling punya peran besar adalah keluarga, yaitu orang tua dan saudara si anak yang tinggal bersama di rumah.

Mereka harus berbicara dengan cara normal tanpa melakukan ucapan cadel seperti yang diderita oleh anak. Mengucapkan kata secara cadel di hadapan anak, berarti menunjukkan bahwa ucapan cadel adalah yang benar.

Orang tua musti memancing anak berbicara, karena semakin aktif berbicara, semakin cepat dia menemukan “kefasihannya”. Kata-kata yang sulit diucapakn oleh anak, baiknya menjadi perhatian agar anak sesering mungkin mengucap kata kata tersebut. Agar anak terus berbicara, ada baiknya anak diminta bercerita tentang kegiatan di sekolah, atau apa saja. Yang terpenting adalah berlatih untuk berbicara.

Dengan suasana yang santai, kita ajak dia agar mengucap kata kata sulit sehingga terlatih secara pelan-pelan menyelesaikan masalah kata yang dihadapi. Dulu, ketika si anak mengucap jajan dengan “dadan”, kita ajak dia pelan-pelang mengucapkan suku kata “ja”, “ja” “ja” an seterusnya. Setelah itu ditambah “jan” “jan”, “jan”, untuk melengkapi kata “jajan”.

Cara ini diulang-ulang untuk menakhlukkan hambatan kata, yang semakin lama akan semakin banyak kata yang bisa diucap secara baik dan benar.
Umumnya, anak juga mengalami kendala bila mengucap suatu kata yang lebih dari dua suku kata. Sebagai ilustrasi, karena kami yang berasal dari Jawa, ada dalam Bahasa Jawa yang dijadikan sebagai latihan, yaitu “jenenge” atau kalau diterjemahkan menjadi namanya. Dari sisi pengucapan, secara pelan, anak bisa mengucapkan “jenenge”, namun ketika diucapkan secara alami dia mengucapkan “jengene”.

Di samping itu, hampir di semua kesempatan, kami tunjukkan pergerakan lidah dan mulut ketika mengucap huruf dan kata. Bahkan kami tunjukkan ke anak dengan meletakkan jarinya ke tenggorokan, ke bibir agar dia bisa berlatih sendiri.

Guru di Sekolah

Guru sekolah tidak akan berperan seperti orang tua atau saudara yang menuntun mengucap dari satu kata ke kata lain, namun memberikan perlindungan pada anak agar tidak dijadikan sebagai bahan olok-olok temannya di sekolah.

Cara ini seolah remeh, tapi akan sangat memproteksi anak agar tetap percara diri dan mau membaur dengan teman-temannya yang berakibat langsung pada eksplorasi pengucapan kata kata dengan berbicara. Bila temannya bisa faham, berarti anak bisa mengucap kata yang sudah dipahami oleh kalangannya, dan kebalikannya, bila teman-teman seputarnya belum faham, maka perlu intensitas latihan pengucapan.

Kendati demikian, bila pengucapan anak masih belum bisa difahami secara baik, ada baiknya guru mengatakan “iya” yang bermakna bukan karena memahami isi pembicaraan si anak, namun lebih pada mendukung agar jiwa anak tidak tertekan karena sisi kurangnya.

Penutup

Sebagai sebuah keluarga, kami harus kompak untuk menjadikan si anak bisa berbicara normal fasih seperti halnya pada umumnya anak seusianya. Bisa dipastikan ibu memegang peranan krusial untuk menjadikannya fasih.

Setiap hari, setiap saat tanpa henti ibu harus rela menuntun anak berlatih mengucap yang benar. Sebagai keluarga pula, kami tidak pernah jenuh untuk melatih dan mengondisikan anak agar mengeksplorasi kemampuan berbicaranya.

Hingga suatu hari, ketika anak kami masuk SD ada keajaiban yang terlihat tiba-tiba, dimana di anak bisa berbicara secara baik dan benar. Kamipun kaget semua ternyata si anak bisa berbicara seperti anak-anak seuasianya berbicara.

Bahkan dalam beberapa kesempatan disuruh untuk pidato. Pernah ada kegaiatan pramuka di tingkat kecamatan yang melibatkan semua anak-anak SD di kecamatana Kaliwungu.

Secara mengejutkan anak kami yang ditunjuk untuk menjadi MC. Peristiwa yang kemudian menjadikan kami “amnesia” kalau si anak pernah berjuang keras melawan keterbatasan verbal.

Paraktiknya, ternyata pelatihan pengucapan secara inten berpengaruh positif pada kemampuan bicara anak. Dan yang lebih membahagiakan pelatihan terus menerus tanpa henti ini, tidak hanya menjadikan anak fasih berbicara, tapi juga menjadi sangat dekat dengan orang tua dan keluarga.

Kedekatan ini, menurut saya justru menjadi anugrah yang luar biasa.

Adakah yang lebih membahagiakan, dalam keluarga, dibanding kedekatan anak dengan kita?

Oleh : Bahrul Ulumi, Pustakawan.