Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang asik tiba-tiba menjadi tempat yang menggelisahkan karna adanya bullying. (Foto: Pixabay.com)

Femme.id – Beberapa tahun lalu, sulungku berkali-kali mengeluh soal suasana di kelasnya. Kelasnya padat karena harus dipenuhi paling tidak 40 anak. Jumlah ini terasa tidak nyaman dibanding dengan sekolahnya dulu.

Dulu dia pernah sekolah dasar di Depok mengikutiku yang saat itu tugas belajar di sana. Ternyata, beda di Depok, beda juga di kampung baik dari sisi kuantitas dan suasana belajar di kelas. Jumlah murid di SD barunya lebih banyak dibanding dengan sekolahnya di Depok sana.

Si sulung berharap punya kawan sehangat ketika bersekolah di Depok dulu. Tidak hanya itu, dia juga mendamba ada persaingan yang jujur di kelas sehingga kelas adalah ruang yang nyaman buat siapa saja.

Namun sayang, diam-diam ada anak sekelasnya mengincar sesuatu yang membuat ketidaknyamanan buat si pendatang baru yang tidak lain dan tidak bukan adalah sulungku. Dari sini bullying dimulai. Bullying dimulai dari seorang kawan yang memanggilnya dengan sebutan nama ayahnya alias namaku.
Bullying ini tidak berjalan mulus sebab si usil mengira pemanggilan nama ayahnya akan membuatnya ciut.

Ternyata sulungku tidak merasa ada sesuatu yang salah dengan nama ayahnya. Dia malah merasa bangga dengan sebutan tesebut karena dari sisi makna juga bagus, dan enak didengar.

Ketika berada di kelas 5 SD, modus bullyingnya berubah. Kalau awalnya dengan menyebut nama ortu, sekarang berubah dengan ancaman berupa paksaan untuk memberi jawaban setiap ada pekerjaan rumah (PR), ulangan harian atau ulangan ulangan lainnya.

Sebenarnya meminta jawaban PR tidak masalah, hanya saja menolak diajari cara mengerjakan soal PR adalah sesat.

Menurut tradisi di sekolah, setiap ulangan akan dicocokkan oleh gurunya langsung. Cara ini sangat memungkinkan bagi pelaku bullying untuk berbuat yang tidak terpuji, yaitu dengan cara mengancam teman di kelasnya untuk mengubah jawaban yang salah menjadi benar, termasuk di dalamnya si sulung yang kena ancaman.

Kalau ancaman-ancaman seperti ini terjadi satu, atau dua kali, sepertinya tidak mengapa. Namun ancaman ini sudah berkali kali, bahkan ada ancaman baru berupa palakan. Kejadian ini berkepanjangan. Ancamannya tidak sebatas pada meminta jawaban saja, ancaman sudah bertambah dengan palakan untuk meminta uang, bahkan tidak jarang mengancam akan menyakiti dengan silet.

Pembaca bisa bayangkan betapa ngerinya sekolah itu. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang asik tiba-tiba menjadi tempat yang menggelisahkan, tempat yang menyiksa dari sisi psikis dan fisik.

Puncaknya, si sulung menyampaikan ke mamanya.

“Mama, kakak tidak mau berprestasi”.

Ternyata berprestasi di kelas malah membebani pikiran luar biasa. Dulu si sulung pernah bilang pada gurunya soal bullying ini, tapi tak ada langkah kongkrit untuk mengatasinya.

Bahkan suatu hari gurunya bilang kalau tidak perlu untuk mengadu masalah di kelas kepada para guru. Barangkali para guru berpikir masalah tersebut soal remeh-temeh sehingga tak perlu untuk diperhatikan. Padahal sejatinya bagi anak, masalah ancaman temannya membuat tertekan bukan kepalang.

Ada perubahan drastis dalam diri anak yang dulunya melihat pagi itu asik kerna akan bersua dengan teman-temannya menjadi benci pagi. Sekolah yang awalnya seperti tempat rekreasi pikiran menjadi tempat yang tidak nyaman.

Sebagai orang tua, pasti sangat sedih mendengar kasus bullying.

Setiap kali si sulung menyampaikan masalahnya, setiap kali itu pula dia melarang untuk tidak bercerita atau sekedar berbagi cerita pada guru.

Di kemudian hari diketahui bahwa menceritakan kepada guru sama soal bullying ini sama dengan menerima ancaman baru.

Waktu itu kami sebagai orang tua selalu mendampingi si sulung untuk memastikan bahwa dia mau belajar atau berkarya apa saja karena ujung-ujungnya untuk membangun masa depannya juga. Kami selalu mendukung si anak tetap belajar karena tidak ada cara lain yang lebih sakti dari belajar.

Semoga kasus sulungku tak pernah terulang pada anak-anak lainnya.

Oh iya, sekarang si sulung sudah kuliah di perguruan tinggi negeri di Semarang. Dari cerita tentang masa lalunya, terbaca kalau dia paling tidak suka untuk membincangkan waktu sekolah SD di kampung. Hal ini berbeda dengan kesan ketika ditanya tentang masa-masa di SMP dan SMA yang keduanya memberikan kenangan yang menyenangkan.

Oleh : Bahrul Ulumi, Pustakawan.