Belasan tahun yang lalu seorang kakek dengan segenap tenaganya menjajakan jasanya hingga ke kota. (Foto ilustrasi: Tokopedia.com)

Cerpen karya: Agastha Fahmi Fauzi

SAWAH telah tertanam jagung pertanda musim kemarau telah tiba. Siang hari yang terasa panas dan malam yang dingin. Anyaman bambu masih berdiri kokoh sebagai pengganti tembok. Harum asap tungku menyengat masuk kedalam ruangan ini. Sunyi. Tidak ada siapa-siapa.

Tidak ada masa depan, tidak ada jawaban dan tidak ada masa yang lalu. Kini hanyalah kini, hari ini, di jam sore tepatnya ketika aku duduk di bangku yang terbuat dari kayu dan sendiri. Rasa kecewa dan sakit hati membawaku pulang menghadap kenangan.

Perpisahan dan kehilangan menghasilkan kerinduan yang hebat. Persoalan hidup di Jakarta masih mengikuti bagai seorang anak kecil yang tak mau jauh dari ibunya.

Persoalan atau yang akrab disapa problema dan harum asap tungku yang tidak kalah menyengat bak mengalahkan persoalan-persoalan itu: biarlah ia pulang ketempat yang semestinya.

Ada kalanya kota dijadikan sebagai tempat tinggal, adakalanya sebagai tempat berlibur. Ada yang sebagai tempat pelarian dan ada juga sebagai tempat yang sengaja didatangi bersama kenangan-kenangannya.

Belasan tahun yang lalu seorang kakek dengan segenap tenaganya menjajakan jasanya hingga ke kota. Ia bekerja sebagai tukang sol sepatu. Berangkat sedari shubuh hingga sore hari.

Menyusuri jalan-jalan kampung dan kota, mencari pelanggan yang butuh jasanya. Dahulu tubuhnya masih kuat mengayuh sepeda hingga berkilometer jauhnya.

Mempunyai tubuh yang tidak begitu tinggi dan besar namun ia sederhana. Dulu, aku sering melihatnya pergi ke mushollah setiap kali hendak sholat.

Tapi tidak ada yang benar-benar sempurna di hidup ini: hobinya adalah bermain togel. Meski begitu, ia tetaplah manusia yang masih mempunyai rasa untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada keluarga, kepada anak-anaknya dan cucunya.

Aku ingat, dia suka membelikanku astor ketika hendak pulang dan tidak lupa mencium pipiku.