Dila jatuh pingsan dan tak sadarkan diri di ruang kerja ayahnya. (Foto ilustrasi: Indiatoday.com)

Cerpen karya: Geztha Ronaldo.

RANJANG berukuran mini yang cukup untuk menatang tubuh satu orang itu mulai bergetar hebat. Kaca jendela yang terkunci rapat pun terbuka perlahan.

Angin sepoi menyusup masuk hingga ke sum-sum tulang. Menggerogoti ketahanan mental yang tatkala bisa menyendiri hingga berjam-jam bahkan bermalam dalam kamar sempit itu. Atap kamar serta dinding bergetar dengan sangat hebat hingga penghuni kamar sempit itu berkeringat dingin.

Suasana kamar amat menyeramkan. Ada bayangan tubuh manusia dengan tinggi berdiri di sudut kamar dekat cermin yang dipasang vertikal. Bayangan itu tampak membelakangi sepasang mata yang kikuk mencari semacam benda untuk mengusir ketakutan.

“Cukup Riand, aku tahu itu kamu! Masalah kita sudah selesai. Cukup! Jangan membuntuti aku lagi, Riand! Aku minta maaf!” getar suara Angel terdengar seperti ingin menangis.

Seketika itu gelas yang disimpan di atas meja belajar pun jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Bunyi pecahan itu membumbui rasa takut Angel kian menjadi.

Bersamaan dengan itu, album foto dengan sampul kaca juga ikutan terhempas ke lantai. Suasana kamar yang awalnya hening kecuali speaker kecil yang mendengungkan lagu-lagu yang baru diperoleh Angel dari Youtube.

Tidak ada suara menyahut. Hanya bunyi tapak kaki sosok di sudut kamar yang melangkah mundur ke arah Angel yang tersudut di pintu kamar. Angel meraih gagang pintu untuk membukanya, namun pintu dalam keadaan terkunci.

Ia teringat kuncinya digantung di atas cermin dekat bayangan hitam itu. Sedang otaknya bekerja mencari cara untuk membuka pintu, lampu pun mulai mati. Bayangan hitam yang berjalan mundur itu semakin mendekat. Aroma bunga rampai yang sempat diciumnya di pekuburan tadi siang segera memenuhi kamarnya. Air conditioner tak lagi mampu mengusir aroma rampai.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar. Lampu kembali menyala dan keadaan kamar tampak seperti semula. Tak ada serpihan gelas kaca yang berantakan di lantai. Pintu jendela tertutup rapat dan album foto masih dalam posisi semula yang menampakan dua sosok yang berpelukan mesra dengan senyum lebar.

Tak ada lagi aroma rampai, kecuali aroma parfum yang disemprotkan pada tubuhnya tadi sore setelah mandi. Aneh tapi nyata.

Kejadiannya baru beberapa menit lalu dan ia sendiri menyaksikannya. Tapi keadaan yang tampak sekarang seperti tidak terjadi sesuatu.
Angel memendam kejadian ini dan tak ingin siapa pun mengetahuinya. Bahkan kepada orang tuanya sekalipun ia tak ingin dibeberkannya.

Ia tahu, Riand akan senantiasa mengikutinya hingga entah kapan. Tubuhnya masih gemetar dan ia baru sadar bahwa celananya basah. Rupanya ia ngompol karena takut yang berlebihan.

Segera ia berlari ke kamar mandi untuk berganti pakaian sekalian membasuh tubuhnya. Lalu ia kembali dengan mengenakan celana pendek seukuran pahanya. Tubuh bagian atas hanyadililitnya dengan kain bergambar dora emon.

Pikiran Angel masih terus mencari-cari cara agar bayangan tadi tidak lagi menghantuinya. Terbersit pula ingatannya pada Dila sahabat dan teman kelasnya.

“Mungkin Dila bisa membantu kalau aku menceritakan semua kejadian ini. Tapi dia pasti akan bertanya yang aneh-aneh dan bagaimana aku harus menjelaskan semuanya? Akh, terserahlah. Aku akan sedikit memanipulasi ceritanya biar dia tidak bertanya aneh-aneh.” Angel tersenyum senang.

Meskipun demikian, ia masih ngeri dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Diraihnya handphone, dan menggesekkan telunjuknya pada bagian layar. Seketika lagunya Callum Scott, You Are the Reason berdengung perlahan sembari matanya membaca beberapa pesan whatsapp yang bertengger di notifikasi. Ada beberapa nama yang tak asing baginya.

“Bill, Ian, Prima, Santy…” ia membaca nama-nama yang mengirimkan pesan untuknya. Ternyata mereka saling membalas pesan di whatsapp group tentang ujian proposal yang seharusnya dilakukan hari ini namun batal karena mesti memakamkan jazad teman sekelasnya yang meninggal akibat celaka.

“Persetan dengan proposal, palingan tahun depan aku juga ujian” gerutunya sambil meraih bantal merah jambu, memeluknya, dan mengatup mata.