Orang tua sebagai pasangan suami istri mampu memberikan contoh nyata di depan anak-anak tentang waktu berkualitas. (Foto: pixabay.com)

Femme.id – Peran bapak dan ibu dalam keluarga modern seperti sekarang ini nampaknya jauh bergeser dibandingkan dengan puluhan tahun silam. Dulu, namanya keluarga hampir pasti bapak yang berperan mencari nafkah di luar rumah, sementara ibu berperan sebatas pada urusan domestic rumah tangga semata yang dalam tradisi Jawa diwakili dengan dengan 3 M, yaitu masak, macak, manak.

Masak bermakna bahwa perempuan harus bisa memasak untuk keperluan makan minum keluarga, sementara macak merupakan istilah yang menunjuk pada tuntutan budaya bahwa perempuan harus bisa bersolek agar terlihat cantik di depan suaminya, dan manak yang berarti bahwa seorang perempuan akan sempurna qudratnya sebagai perempuan bilamana mengandung dan melahirkan anak.

Tidak berlebihan bila akhirnya muncul anggapan di sebagian besar masyarakat bahwa bapak berperan sangat dominan di keluarga karena posisinya sebagai pencari nafkah, sehingga kadang dia tidak perlu untuk membantu urusan domestik rumah tangga, termasuk di dalamnya momong anak.

Bahkan sampai sekarang, masih ada juga yang beranggapan bahwa tidak elok seorang bapak yang mencari nafkah ikut terlibat aktif melakukan pekerjaan rumah tangga rumah seperti halnya membersihkan kamar mandi, dan juga kegiatan lainnya seperti mencuci piring dan pakaian.

Bisa dibayangkan betapa kaku hubungan antara pasangan suami isri bila ada garis ketat mengenai peran yang mereka lakukan. Jangan-jangan pola relasi ini akan sangat berpengaruh pada komunikasi dalam keluarga baik antara suami dengan istri dan orang tua dengan anak.

Seiring dengan perjalanan waktu, sedikit demi sedikit cara pandang ini berkurang dan banyak dari pasangan keluarga yang saling membagi peran sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing. Tidak jarang pasangan suami istri bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang dulu hanya dikerjakan oleh perempuan semata.

Praktik yang terjadi di keluarga modern dewasa ini, umumnya, keluarga muda bersama-sama bekerja di luar rumah. Hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan ekonomi yang semakin meninggi sehingga harus saling membantu dalam hal mencari nafakah.
Pola keluarga seperti ini tidak akan memunculkan masalah pada awal-awal pernikahannya.

Namun ketika istri sudah hamil atau bahkan sudah punya momongan, akan muncul isu krusial dalam keluarga yaitu bagaima mendidik anak, diiringi dengan persoalan lainnya apakah kesempatan yang dimiliki oleh pasangan atau keluarga tersebut sudah berkualitas, dan bagaimana menjaga waktu berkualitas untuk pasangan dan juga anak-anak?

Sebenarnya setiap keluarga punya pilihan masing-masing apakah pasangan akan bekerja semua atau salah satu dari mereka mengalah untuk menjaga anak di rumah.

Apapun keputusannya, menjaga relasi suami istri dan mendidik anak merupakan prioritas utama. Bisa jadi pasangan suami istri akan tetap bekerja dengan pertimbangan masih ada orang tua yang akan menjaga anak mereka di rumah. Namun demikian, ada pasangan yang memilih memprioritaskan membesarkan anak sendiri di rumah karena si ibu tak mau melewatkan masa keemasan tumbuh kembang anak.

Apapun pilihannya, pasangan suami istri dituntut untuk bisa berhubungan dengan baik, ditandai dengan komunikasi yang baik juga.

Saya sendiri berkeyakinan bahwa komunikasi merupakan salah satu kunci hubungan harmonis dengan keluarga baik dengan pasangan maupun anak-anak.

Berkomunikasi yang baik sudah harus dimulai ketika ikrar pernikahan dibaca. Bergitu juga komunikasi dengan anak, harus sudah dimulai waktu dia masih dalam kandungan ibunya.

Biarpun komunikasi ini hanya satu arah, namun berpengaruh positif pada anak, dan pasti dengan ibu yang mengandung jabang bayi. Bisa dibayangkan, betapa si bayi akan sangat berbahagia karena kedatangannya sudah sangat dinanti oleh orang tuanya.

Bila diambil makna kebalikannya, betapa bayi akan sedih bila dia tidak pernah diajak komunikasi oleh orang tuanya dan tidak pernah ditunggu kedatangannya.

Komunikasi sama si anak akan sangat terasa menyenangkan bila si anak sudah mampu bekomunikasi secara verbal. Di sinilah sesungguhnya orang tua bertanggung jawab untuk bisa berbicara apa saja. Salah satu kecerdasan orang tua dalam membimbing dan membesarkan anak adalah kemampuan mengobrol dengan tema apa saja.

Tema bisa tentang hobi, kegiatan sehari-hari, atau kegiatan belajar.
Selama anak merasa nyaman berbicara dengan kita, berarti kita sudah menemukan komunikasi yang efektif. Semakin topik yang kita bincangkan bertema ringan, maka semakin efektif dan berkualitas komunikasi yang sedang dibangun.

Ekstrimnya, semakin orang tua bisa berbicara dengan hal-hal yang tidak berkualitas, semakin berkualitas waktu yang sedang dibangun oleh orang tua bersama anak-anaknya.
Sama halnya dengan pasangan, selama kita bisa berbicara hal-hal yang remeh temeh, sebenarnya kita sudah menemukan waktu berkualitas untuk pasangan kita.

Bilamana kita sebagai orang tua masih berbicara dengan nada tinggi, dengan emosi, dengan kata yang yang tidak enak di hati, maka sebenarnya kita belum menemukan waktu berkualitas.

Sebagai catatan bahwa waktu berkualitas tidak datang dengan sendirinya atau hadir secara tiba-tiba, namun dari awal memang sudah dibangun dengan baik. Dan cara yang paling jitu agar punya waktu berkualitas adalah orang tua sebagai pasangan suami istri mampu memberikan contoh nyata di depan anak-anak tentang waktu berkualitas.

Sebagai catatan bahwa waktu berkualitas tidak datang dengan sendirinya atau hadir secara tiba-tiba, namun dari awal memang sudah dibangun dengan baik. Dan cara yang paling jitu agar punya waktu berkualitas adalah orang tua sebagai pasangan suami istri mampu memberikan contoh nyata di depan anak-anak tentang waktu berkualitas.

Oleh : Bahrul Ulumi, Pustakawan.