Sayang sekali keponakan Wayan Yadnya (42) tetap tidak diperbolehkan bersandar di Pelabuhan Padang Bay. (Foto : Bratapos.com)

Femme.id, Denpasar – Krisis pandemic global Covid-19 memberikan pelajaran sekaligus tamparan kepada kita, bahwa disamping hilangnya sumber pendapatan atau ekonomi, ada beberapa pihak atau msayarakat apakah mungkin karena keterbatasan informasi telah hilang rasa empati dan prikemanusiaan.

“Kami mengalami situasi yang sangat menyedihkan. Keponakan kami yang tinggal di Pulau Nusa Penida, Jum’at 17 April 2020 siang ini mengalami panas badan yang tinggi dan harus opname di RS. Gema Shanti Nusa Penida. Dari hasil test laboratorium tidak mengalami gejala DB serta hasil rapid test juga negative. Akan tetapi karena suhu tidak turun-turun, maka ponakan kami harus di rujuk ke RSUD Klungkung”, terangnya.

Ditengah situasi pandemi ini, protokol dan petugas kesehatan seperti biasa mengenakan APD lengkap. Selanjutnya proses memindahkan pasien dari Nusa Penida harus melalui speedboat.

“Karena sudah sore dan pelabuhan di Kusamba tutup, maka speedboat diarahkan ke Padang Bay. Kira-kira beberapa ratus meter sebelum boat bersandar, nampak kerumunan warga sekitar berkumpul, dan seperti bisa ditebak, akhirnya speedboat ditahan tidak diperbolehkan bersandar,” kata laki-laki paruh baya yang bernama Wayan Yadnya (42).

Ambulance dari RSUD Klungkung beserta petugas kesehatan sudah siap dengan APD lengkap menunggu di dermaga terhadang oleh warga tidak diperbolehkan menerima pasien”, tambahnya.

Lanjutnya, hampir satu jam lebih speed boat terombang-ambing ditepian sambil menunggu negosiasi pihak RSUD Klungkung dengan warga, namung sayang sekali keponakan kami tetap tidak diperbolehkan bersandar di Pelabuhan Padang Bay.

Waktu sudah menunjukan pukul 06 sore, akhirnya pihak keluarga meminta bantuan Pak Bupati Klungkung dan jajarannya, Dandim beserta jajarannya, Kapolres beserta jajarannya untuk bernegosiasi dengan warga di pelabuhan Padang Bay, namun tetap tidak berhasil membujuk warga. Akhirnya alternative terakhir Speed boat harus bersandar di Pelabuhan Kusamba meskipun dengan resiko cuaca dan gelombang besar karena sudah sore.

Kemudian, berkat bantuan semua pihak tersebut diatas berhasil membujuk warga Banjar Bias untuk memperbolehkan speed boatnya bersandar. Astungkare berkat kerja sama warga Banjar Bias, ponakan kami dipersilahkan dan dibantu proses evakuasinya dengan mata berkaca-kaca, lelaki paruh baya ini mengakhiri ceritanya.

“Mudah-mudahan jangan ada hal yang serupa untuk ke dua kalinya, hal seperti ini karena kurangnya edukasi tentang wabah COVID-19 yang sedang melanda”, terangnya.

Lanjutnya, untuk itu kami atas nama semua keluarga, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Bupati Klungkung, Dandim, Kapolres Klungkung beserta semua jajarannya atas bantuannya.

“Kami juga sangat berterima kasih kepada warga Banjar Bias dan pihak boat Sekarjaya. Semoga selalu diberkati kesehatan dan semoga kita semua melalui krisis pandemi global ini bersama”, tutur lelaki kelahiran Nusa Penida 42 tahun silam. Demikian, seperti dikutip Bratapos.com. (*/bra)